Pocong Tetangga

Pocong Tetangga: Uang Kematian

 

Amprung terkapar tidak sadarkan diri di pinggir jalan. Ia bertelanjang badan dan hanya mengenakan celana levis selutut sehingga tato elang di dadanya dapat terlihat dengan jelas. Kulitnya berwarna sawo matang, rambutnya dicukur sesisir, perutnya buncit, ia terlihat kumal seperti tidak terurus.
Satu dua mobil truk pengangkut pasir melintasi Amprung. Derum mobil itu tidak mengusiknya sama sekali. Dua buah botol bir kosong tergeletak di samping Amprung. Kedua kakinya nyeker, entah raib ke mana alas kakinya itu.
Semalam memang menjadi malam yang panjang bagi Amprung. Dia kalah berjudi di pasar Kliwon dan dibuang begitu saja oleh sopir truk di pinggir jalan. Amprung memang seorang penjudi berat. Teman-temannya di pasar Kliwon itu adalah para pedagang kaki lima yang kalau malam ikut berjudi dengan Amprung.
Nasib Amprung selalu buruk, ia lebih sering kalah ketimbang menang. Seperti tadi malam, usai menjual cabai hasil curian dari kebun tetangganya, Amprung langsung pergi ke pasar Kliwon untuk bermain judi dadu. Awalnya Amprung sempat menang, uangnya bertambah berkali-kali lipat. Sayangnya dia malah kembali kalah dan semua uangnya ludes.
"Uang kau sudah habis, mau gimana lagi?" tanya Kohar, pedagang ikan lele yang ikut berjudi.
"Iya Amprung. Sudah sana pulang," Sukarta si bandar judi yang juga berprofesi sebagai pedagang sayuran mengusir Amprung sambil tertawa.
"Sebentar lah Bang. Aku masih mau main ini," Amprung masih penasaran, dia yakin kalau terus bermain pasti akan menang.
"Ya, main pakai apa?" Kohar meledek Amprung.
"Yuk, pasang," ajak bandar. Lima orang melemparkan uangnya pada papan dadu.
Sangat mudah bermain judi dadu ini. Ketika bandar sudah memberi aba-aba untuk bermain, para penjudi tinggal menaruh uangnya di atas papan yang bergambar butiran nilai dadu, semacam gambar pada kartu gaple.
Amprung bengong saja melihat mereka bermain, "Sebaiknya kau pasang nomor enam," saran Amprung pada salah satu penjudi.
"Halah, diam kau," dia tidak mau menerima saran dari sang pecundang.
Setelah satu permainan selesai, Amprung milirik Sardi, temannya satu kampung.
"Bung, aku mau ngutang uang dulu sama kau," bisik Amprung.
"Yang minggu lalu juga belum kau bayar, Prung," Sardi kesal.
"Ini yang terakhir. Aku janji pasti bayar."
Dengan terpaksa, Sardi meminjamkan uangnya. Amprung kemudian berjudi kembali. Sialnya dia tetap kalah dan semua uangnya habis. Amprung menyerah, dia rasa cukup untuk malam ini. Saatnya pulang.
Tapi teman-temannya Amprung tidak membiarkannya pulang. Mereka malah mengajaknya minum bir gratis. Bir murahan itu mereka beli di pinggir jalan. Amprung mabuk berat, salah satu temannya sengaja menjahili Amprung. Ia ditelanjangi dan dinaikkan ke atas truk pengangkut beras lalu paginya sang sopir truk membuang Amprung di pinggir jalan.
Dari kejauhan seorang sopir truk menyadari kalau ada orang yang sedang tertidur di pinggir jalan. Sopir itu membunyikan klakson saat melintas di depan Amprung. Seketika saja, kepala Amprung bergerak, ia akhirnya sadarkan diri. Amprung mencoba untuk bangkit. Dari kejauhan, ia mendengar sayup-sayup suara dari spiker masjid.
"Innalillahi wainnalillahi rojiun, telah berpulang ke rahmatullah...," tiba-tiba sebuah mobil pikap melintas, suaranya mengganggu pendengaran Amprung.
Entah siapa yang meninggal, Amprung juga tidak tahu sekarang dia sedang ada di mana. Yang jelas, ada satu hal yang membuatnya senang; kebetulan sekali ada orang yang meninggal. Itu artinya dia akan dapat uang. Sudah menjadi hal lumrah kalau di suatu kampung ada yang meninggal maka setiap orang yang ikut menshalatkan jenazahnya akan diberi uang sedekah, mereka biasa menyebutnya uang kematian.
Segera Amprung beranjak pergi, ia menuju sumber suara tersebut. Di belakang rumah salah satu warga, Amprung bersembunyi, ia mencuri baju koko dan sarung di jemuran lalu mengenakannya. Tidak ada satu pun yang mengenali Amprung, ia membaur dengan kerumunan warga di halaman masjid untuk menshalatkan jenazah.
Tanpa di sengaja, Amprung melihat sebuah amplop tebal yang tergeletak di bawah meja. Itu adalah uang untuk sedekah mayat, Amprung tersenyum. Jiwa kriminalnya muncul, pelan-pelan ia mendekati meja itu dan berhasil mencuri segepok uang. Ia lalu pergi dari kermunan warga, nanti malam uang itu akan ia gunakan untuk berjudi. Selesai shalat jenazah, pihak keluarga panik, mereka menangis karena uangnya hilang dicuri.
"Siapa pun yang mencuri uang sedekah bapakku. Aku sumpahi dihantui pocong!"
Teriak Jubaidah sambil menangis.
***
Amprung tidak langsung pulang ke rumah.Uang itu ia bawa ke pasar Kliwon untuk berjudi. Dan lagi-lagi dia kalah, semua uangnya ludes, dia bahkan ngutang lagi ke temannya.
"Jangan pulang dulu lah. Kita mabok lagi, Prung," ajak temannya.
"Nggak ah. Kalian tega sama aku," Amprung menyingkirkan lengan temannya dari pundaknya sendiri.
"Kali ini kita nggak bakal jahilin kamu lagi, Prung."
"Nggak. Aku ngantuk mau pulang. Dari kemarin belum pulang, istriku pasti khawatir.
Amprung pulang naik angkot. Angkot di sana memang beroperasi 24 jam. Kebetulan ia menaiki angkot yang sepi penumpang. Sepanjang perjalanan Amprung mencoba untuk ngobrol dengan sopir angkot, tapi sopir itu hanya menjawab singkat-singkat saja seperti sedang malas diajak bicara.
Saat melintasi perkebunan bambu, dari kaca belakang angkot, Amprung melihat bayangan orang yang sedang berdiri di tengah jalan. Anehnya walau angkot yang ia tumpangi terus melaju, bayangan itu tidak mau hilang.
"Aneh," Amprung menggelengkan kepala.
Amprung perhatikan bukannya semakin menjauh, bayangan itu malah semakin mendekat.
"Pak, ada orang yang ngikutin kita," kata Amprung pada sopir angkot.
"Mana uang saya?" bukannya menjawab, si sopir angkot malah minta uang.
"Uang?" Amprung menoleh ke arah kemudi.
Amprung berteriak, ia terkejut melihat pocong di kursi kemudi. Ia kemudian lompat dari angkot lalu tersungkur ke aspal. Kaki dan lengannya berdarah. Angkot tadi berhenti lalu perlahan berjalan mundur mendekati Amprung yang masih kesakitan.

Pocong Tetangga: Jangan Ganggu! (Part 2)


Angkot itu mendekat, Amprung bangkit lalu lari sekuat tenaga. Sesekali ia menoleh ke belakang, angkot itu terus mengejarnya. Ada sebuah jalan kecil di sebelah kanan, Amprung berbelok ke jalan tersebut agar angkot tidak bisa mengikutinya lagi.
Setelah berusaha mencari jalan pulang dengan menyusuri perkampungan, Amprung akhirnya berhasil sampai di rumah. Ia menggedor pintu dengan sangat keras, napasnya tersengal-sengal, sesekali ia menoleh ke belakang karena takut ada pocong yang mengikutinya.
“Tika! Buka pintunya!”
Tidak lama kemudian, pintu bersuara pertanda ada seseorang yang membukakannya.
“Ke mana aja sih, Pak?” Tika masih mengucek matanya yang kantuk. Ia geram dengan kelakuan suaminya itu.
Tanpa menjawab, Amprung menerobos masuk. Tika heran dengan tingkah suaminya itu, jangan-jangan ia dikejar-kejar warga lagi lantaran maling.
“Kamu kenapa, Pak? Maling lagi?!” Tika menghampiri suaminya.
“Udah jangan banyak omong. Tutup pintunya!” Amprung malah balik marah.
Tika menggelengkan kepala sabil berdecak kesal. Rasanya ia tidak sanggup lagi hidup bersama lelaki itu. Dari dulu tabiat Amprung tidak pernah berubah, senang maling dan berjudi. Selama ini yang menghidupi keluarga malah Tika, ia berjualan uduk di SDN Sukaresmi, tempat anaknya sekolah.
“Pak, itu siapa di luar?” Tika mengintip dari balik jendela.
“Tik...! jangan diintip!” desis Amprung.
Tika beranjak menghapiri suaminya yang sedang terbaring ketakutan di atas sofa butut.
“Dia ngeliatin rumah kita terus, Pak. Aku nggak bisa lihat wajahnya samar gitu,” kata Tika.
Amprung menarik lengan istrinya ke kamar. Di sana ada anak perempuan mereka yang sedang tidur pulas. Pintu kamar itu lalu dikuci rapat.
“Uangku...,” seseorang mengetuk jendela kamar, diikuti dengan rintihan minta uang.
“Pak, kamu maling uang siapa?”
“Setan, Mah. Uang setan!” Amprung mengerutkan dahi, tubuhnya bergetar.
“Hah setan? Kok bisa?” Tika heran. Kaca pintu kamar mereka masih diketuk.
“Aku mencuri uang sedekah orang yang meninggal,” bisik Amprung.
“Bajingan kamu Pak. Jangan-jangan itu uangnya Pak Rusdi!” Tika terkejut, ia benar-benar marah.
“Maksud kamu?”
“Pak makanya kalau udah punya anak istri jangan keluyuran nggak jelas! Itu tetangga kita Pak Rusdi meninggal tadi pagi. Jenazahnya dibawa ke kampung tempat kelahiran dia. Pas selesai dishalatkan, uang sedekahnya hilang ada yang curi. Ternyata kamu Pak pencurinya.”
“Ssssttt..., jangan berisik,” Amprung menutup mulut istrinya.
Tika menyingkirkan lengan suaminya, ia lalu mendekat ke jendela, pocong itu masih di luar. Ia mengetuk kaca jendela kamar dengan cara membentur-benturkan kepala.
“Ampun, Pak Rusdi. Jangan ganggu kami,” Tika mengeraskan suaranya.
“Uangku.... kembalikan uangku,” kata pocong itu dari luar.
“Pak, berapa uang yang kamu curi?”
Amprung menggelengkan kepala, “Aku tidak tahu. Itu banyak sekali, segepok,” jawab Amprung.
“Kamu pakai judi uangnya?”
Amprung mengangguk, refleks saja tangan Tika menampar wajah suaminya.
“Bodoh kamu, Pak!”
Jendela semakin keras digedor.
“Ampun Pak Rusdi. Saya janji besok akan kembalikan uangnya,” kata Amprung.
Tika menoleh ke suaminya dengan ekspresi wajah kesal, “Uang dari mana?” bisik Tika.
“Pokoknya aku akan usahakan,” jawab Amprung.
Suara ketukan perlahan  hilang. Tika membuka sedikit tirai jendela,  ternyata pocong itu sudah pergi.
***
Keesokan paginya, saat Tika melintas di depan rumah tetangganya, ia melihat Jubaidah menangis di teras rumah. Suami dan kedua anaknya mencoba menenangkan Jubaidah, wanita itu masih belum ikhlas uang sedekah bapaknya dicuri orang. Padahal itu uang tabungannya selama bertahun-tahun.
“Ibu kenapa?” tanya Amila, ia menengadah ke Tika yang tiba-tiba mempercepat langkah.
“Nggak apa-apa, Nak. Ayo nanti kamu terlambat masuk kelas,” Tika menarik lengan anaknya, memintanya untuk mempercepat langkah.
Amila menoleh ke arah pohon jambu, “Bu ada yang ngeliatin kita,” katanya sambil menunjuk.
Tika memperhatikan pohon jambu di pinggir jalan, tapi tidak ada siapa-siapa di sana.
“Udah ayo cepat pergi,” Tika tahu itu pasti pocong semalam yang masih mengikutinya.

Pocong Tetangga: Penangkal Pocong (Part 3)


Pagi sekali, Amprung sudah ada di pasar Kliwon. Pengunjung pasar sudah ramai, para pedagang sibuk melayani pembeli. Termasuk Sardi yang merupakan penjual ayam potong. Di tengah kesibukannya, Amprung datang menghampiri Sardi.
“Tolong aku, Di.”
“Apa lagi, Prung?” tanya Sardi sambil sibuk memotong ayam.
“Aku dikejar-kejar pocong.”
Sardi malah tertawa mendengarnya.
“Pocong? Zaman sekarang mana ada pocong, Prung. Kau mengada-ada saja.”
“Ini serius, semalam aku didatangi pocong. Ini semua salahku, Di.”
“Salah apa kau?” Sardi sambil sibuk mengkilo ayam potong dan membungkusnya.
“Aku mencuri uang sedekah jenazah,” bisiknya pelan di telinga Sardi.
“Hah? Sudah gila kau?” Sardi menebaskan goloknya di atas tatakan kayu lalu menoleh ke Amprung.
“Jenazah siapa?” lanjut Sardi.
“Tentanggaku, Di.”
Sardi menggelengkan kepala, ia mencabut kembali goloknya.
“Kau harus mengembalikannya, Prung.”
“Uangnya banyak sekali dan aku tidak sanggup mengembalikannya, Di. Kau tahu tidak tempat dukun sakti di dekat sini.”
“Ada di kampung Cilengkong. Mbah Goto namanya, dia dukun yang sakti. Kau ke sana saja, siapa tahu dia bisa bantu.”
Amprung mengangguk. Sardi dengan baik hati mau membantu Amprung. Ia memberikan bahkan uang dua ratus ribu untuk Amprung agar bisa membayar dukun itu.
Pagi itu juga, Amprung pergi ke kampung Cilengkong dengan naik ojek. Jalan menuju kampung itu rusak, berkerikil, ada banyak lubang di tengah jalan yang digenangi air hujan. Setelah sekitar dua puluh menit perjalanan, akhirnya Amprung tiba di kampung Cilengkong.
Rumah Mbah Goto terbilang bagus, catnya berwarna putih, pagar rumahnya dicat warna hijau, di depan pagar itu ada spanduk bertuliskan ‘Tabib Pengobatan Alternatif’ selain dukun ternyata Mbah juga seorang tabib yang biasa mengobati penyakit kiriman alias santet.
“Ini benar rumahnya Mbah Goto?” tanya Amprung pada tukang ojek.
“Iya benar, saya pernah ke sini sekali,” jawabnya.
Amprung membayar ongkos ojek lalu melangkah menuju gerbang rumah Mbah Goto.
“Permisi,” Amprung mengetuk kunci gerbang, menimbulkan bunyi nyaring.
Dari dalam rumah muncul seorang wanita yang umurnya sekitar tiga puluh tahunan, ia mengenakan daster, rambutnya diikat ke belakang. Sambil tersenyum ia menghampiri Amprung.
“Iya, Mas. Ada keperluan apa, ya?” tanya wanita itu sambil membukakan pintu gerbang.
“Saya mau bertemu dengan Mbah Goto. Apa beliau ada di rumah?”
“Ada Mas. Silakan masuk.”
Amprung dibawa masuk ke dalam rumah. Ia sempat terkagum-kagum melihat isi rumah Mbah Goto, banyak koleksi patung yang terbuat dari kayu.
“Mbah ada tamu,” wanita itu mengetuk pintu kamar Mbah Goto.
“Suruh masuk saja,” terdengar suara lelaki tua dari dalam kamar.
“Silakan Mas. Masuk saja ke kamar Mbah.”
Dengan sopan Amprung masuk ke dalam kamar Mbah Goto. Di sana ia melihat Mbah Goto sedang santai di atas sofa sambil menonton TV, kakinya diselonjorkan ke meja, ia menoleh pada Amprung.
“Silakan duduk,” Mbah Goto menurunkan kakinya, ia bergeser memberi tempat untuk Amprung.
“Terima kasih Mbah. Saya Amprung, saya mau minta pertolongan Mbah.”
Mbah Goto masih memperhatikan layar TV yang menayangkan film kartun lawas, sesekali ia tertawa. Amprung mulai ragu kalau Mbah Goto ini dukun sakti.
“Masalahnya apa?” tanya Mbah Goto, ia kembali menaikkan kakinya ke atas meja.
“Dikejar-kejar pocong, Mbah.”
Mbah Goto malah tertawa terbahak-bahak, ia sekarang menoleh ke arah Amprung. Tanpa diminta, Amprung menceritakan apa yang sudah ia perbuat sehingga pocong itu mengejarnya. Mbah Goto mengangguk-angguk tapi dia malah fokus kembali ke TV.
“Pocong itu minta uangnya kembali, tapi kau tidak mampu.”
“Iya Mbah. Tolong bantu saya biar pocong itu pergi.”
Mbah Goto mematikan TV, ia mengembuskan napas berat dan perlahan bangkit.
Ia mengambil sebuah botol cembung dari dalam lemari.
“Kalau pocong itu datang lagi ke rumahmu. Kamu buka tutup botol ini. Nanti dia akan terkurung di dalam botol.”
Amprung tersenyum, “Terus kalau udah terkurung nanti botolnya saya apakan Mbah?”
“Kau simpan baik-baik jangan sampai pecah. Pocong itu nantinya bisa mendatangkan keberuntungan juga.”
“Wah serius, Mbah?”
“Iya. Nih ambil.”
Amprung meraih botol cembung itu. Tapi tiba-tiba ekspresi wajahnya datar kembali, ia belum menanyakan harga botol itu.
“Berapa ya Mbah harganya?”
“Gratis. Ambil saja. Aku tahu kamu orang susah,” Mbah Goto tertawa, ia menyalakan TV lagi dan lanjut menonton kartun.
Amprung berkali-kali mengucapkan terima kasih kemudian pamit dari hadapan Mbah Goto.
***
Malamnya, saat anak Amprung sudah tidur, ia dan istrinya bersiap di jendela rumah. Mereka mengintip dari balik jendela, mencari keberadaan pocong. Tepat pukul 12 malam, terlihat asap kental menyembur di depan rumah mereka. Saat asap hilang, terlihat pocong berdiri di sana.
“Uangku...,” lirih pocong itu.
Amprung memberanikan diri, ia membuka pintu rumah lalu menyodorkan botol itu ke arah pocong. Seketika saja pocong itu berubah kembali menjadi gumpalan asap lalu masuk tersedot ke dalam botol.

Pocong Tetangga: Nomor Togel (Part 4)


Amprung menyimpan botol itu dengan sangat rapi. Ia membungkusnya dengan kain bekas kemudian dimasukkan ke dalam kardus. Ia menyimpannya di dalam lemari. Tidak ada seorang pun yang boleh membuka lemari itu. Zahra, anak perempuan Amprung, pun berkali-kali diingatkan oleh ibunya agar tidak membuka lemari tersebut.
Tengah malam saat mereka sedang tidur, terdengar suara botol yang seperti diketuk. Tika terbangun. Suara itu bersumber dari dalam lemari. Pocong dari dalam botol memaksa ingin keluar. Tika mengguncang-guncangkan tubuh suaminya.
“Pak, bangun!”
“Ada apa?” Amprung terbangun masih dalam keadaan kantuk.
“Dengar, Pak,” kata Tika.
Amprung meruncingkan daun telinganya
“Pocong?”
“Iya, Pak.”
Amprung segera turun dari tempat tidur. Ia lalu membuka lemari dan memeriksa keadaan botol. Di dalam botol tersebut menggumpal asap putih yang melayang tapi tenang. Botolnya bergetar sambil terus mengeluarkan suara ketukan.
“Pak, bagaimana kalau nanti botol ini pecah?”
“Kamu jangan khawatir. Botol ini sakti dan tidak akan bisa ditembus pocong sialan itu.”
“Tik, Tika... lihat ini,” Amprung menunjukkan botol itu kepada istrinya.
Aneh sekali. Dari dalam botol itu muncul empat digit angka yang entah apa maksudnya.
“3785,” Amprung buru-buru mencatatnya.
“Itu nomor apa, Pak?”
“Nggak tahu. Dicatat saja dulu. Siapa tahu bisa jadi jimat.”
Suara ketukan dari dalam botol sudah hilang. Amprung meletakkan  kembali botol ke tempat semula dengan sangat hati-hati.
***
Keesokannya, di pasar Kliwon, Amprung membantu Sardi berjualan. Kalau memang lagi rajin, Amprung bekerja jadi apa pun di pasar itu. Kadang menjadi tukang pikul, kadang bantu lapak orang. Tapi, ia lebih sering hanya tiduran saja di pojok pasar sambil menunggu mangsa untuk dicopet.
“Sardi!”
muncul seorang lelaki dari arah barat yang mengenakan topi koboi. Ia membawa buku dan pulpen.
“Woi, Arman!” Sardi menoleh ke arah lelaki itu sambil tersenyum.
“Biasa. Mau pasang togel, nggak?” Arman membuka buku yang dibawanya. Di dalam buku itu banyak sekali digit nomor togel untuk dipilih.
“Boleh deh. Aku pasang dua digit saja,” di sela kesibukannya, ia mengeluarkan uang dua ribu rupiah.
“Mau nomor berapa?” tanya Arman.
“Em... 47,” ujar Sardi. Ia kembali meraih goloknya dan memotong daging ayam.
“Hai, kau Amprung, pasang togel lah,” Sardi memukul buku togel ke kepala Amprung.
“Nggak punya duit, Bang,” timpalnya tanpa melihat ke arah Sardi.
“Duit yang kukasih kemarin sudah habis?” tanya Sardi.
Tiba-tiba wajah Amprung cerah. Ia ingat kalau si dukun menolak uang itu. Buru-buru Amprung merogoh celananya.
“Ini masih ada.”
“Berapa itu?”
“Aku pasang seribu perak ajalah, Bang. Uangnya buat judi nanti malam.”
“Berapa digit?”
Amprung terdiam, dia ingat 4 digit nomor yang tertera di dalam botol.
“Empat bang, empat digit.”
“Nomornya?” Arman bersiap mencatat.
“3785.”
"Mantap, Prung. Semoga beruntung kau," Arman beranjak pergi. Ia akan berkeliling pasar untuk menawarkan judi togel.
Beberapa hari kemudian, nomor togel empat digit keluar. Amprung terkejut karena taruhannya benar. Nomor yang keluar dari togel yaitu 3785. Amprung mendapatkan hadiah sebesar dua juta rupiah. Ia menyesal karena tidak bertaruh lebih banyak.
“Aku menang togel, Tik. Nomornya dari botol semalam.”
“Wah serius, Pak?”
“Iya, Tik. Nanti malam kita lihat lagi botolnya. Siapa tahu muncul nomor togel lagi.”
Namun, sampai tiga hari berikutnya, botol itu tidak mengeluarkan nomor togel. Hanya ada suara ketukan dari dalam botol. Pocong itu mendesak ingin dikeluarkan.
“Pocong sialan! Bikin berisik saja,” Amprung melempar gantungan baju ke arah lemari. Suara itu sangat mengganggu sehingga keluarga Amprung susah tidur.
"Pak, coba pindahkan botolnya ke dapur," Saran Tika.
Amprung menuruti saran istrinya. Ia membawa botol itu ke dapur lalu diletakkan di atas meja makan. Akhirnya keluarga Amprung bisa memejamkan mata. Kini suara itu hanya terdengar pelan dan sayup.
Namun, sebelum Amprung terlelap tiba-tiba terdengar suara gaduh di dapur. Mereka mendengar suara seperti kaca yang pecah. Sesaat kemudian diikuti suara kucing mengeong.
"Pak, botolnya!," Tika panik dan membangunkan suaminya. Mereka berdua berlari ke dapur.

Pocong Tetangga: Warteg Pesugihan (Part 5)


“Hanya gelas yang jatuh,” Amprung mengelus dadanya, botol itu ternyata masih aman.
Ia mengambil botol tersebut lalu menaruhnya kembali ke dalam lemari. Malam itu mereka tidur dengan ditemani suara dari dalam botol yang sangat mengganggu. Besok pagi, Amprung akan mendatangi kembali Mbah Goto, siapa tahu dia bisa mengatasi masalah ini. Kalau bisa, rasanya Amprung ingin memberikan saja botol itu pada Mbah Goto. Dia sudah tidak sanggup menyimpannya lagi.
Keesokan harinya, Amprung mendatangi rumah Mbah Goto. Seperti biasa dukun itu sedang santai di atas sofanya. Mbah Goto ini tidak terlihat seperti dukun pada umumnya, lebih seperti orang biasa yang hobi menonton TV.
“Kau simpan saja di rumah. Eh kau tahu, pocong dalam botol itu bisa buat kamu kayak,” kata Mbah Goto.
“Bagaimana caranya, Mbah?”
“Kamu coba buka warteg. Letakkan botol itu di dapur, dagangan kamu pasti laris.”
“Nggak ada modalnya, Mbah.”
Mbah Goto menggelengkan kepala. Ia bangkit dari duduknya lalu mengambil sebuah kardus dari dalam lemari. Di dalam kardus itu terdapat tumpukan uang seratus ribuan, entah berapa jumlahnya. Ia menghitung beberapa lembar uang lalu menyerahkannya pada Amprung.
“Ini tiga juta. Kau buka warteg di pasar Kliwon.”
“Serius, Mbah?”
“Iya, ambil saja. Aku senang kalau bisa bantu orang. Hati-hati jangan sampai botolnya pecah, kau jaga baik-baik.”
“Terima kasih Mbah,” Amprung berkali-kali mencium tangan Mbah Goto.
***
Tanpa banyak pikir lagi, Amprung menyewa sebuah kios di pasar Kliwon. Kios itu ia dapatkan dari teman berjudi, harganya sudah dinego habis-habisan sehingga bisa dibayarkan perbulan dan cukup murah. Biaya sewanya hanya lima ratus ribu perbulan.
Tika akhirnya beralih profesi menjadi penjaga warteg. Hari pertama buka, ia tidak masak terlalu banyak karena takut tidak habis. Nyatanya baru tiga jam buka, dagangan Tika sudah ludes. Wartegnya ramai pengunjung. Botol itu benar-benar mendatangkan keberuntungan.
“Masak lagi, Tik,” pinta Amprung.
“Iya Pak. Mumpung lagi ramai pembeli.”
“Kita bakal jadi orang kaya!” wajah Amprung semringah.
Sebenarnya ada yang aneh dari masakan Tika. Menurut salah satu pelanggan, kalau mereka makan di warteg itu rasanya sangat enak dan nikmat, tapi kalau makanannya dibungkus dan dibawa ke rumah rasanya jadi hambar. Kurang enak.
Walau pun begitu pelanggan warteg Amprung semakin lama semakin banyak. Dari bulan ke bulan, usaha wartegnya semakin maju. Ia meraup keuntungan yang besar sehingga bisa membayar karyawan. Tidak ada orang yang tahu kalau di dapur warteg itu ada botol pocong yang menjadi alat pesugihan mereka. Setiap malam botol itu masih berusuara, namun tidak ada orang yang menyadarinya.
“Pak, sebaikya kita kembali saja uang yang pernah kamu curi.”
“Jangan Tika. Kau ini bodoh! Nanti pocongnya malah pergi. Dagangan kita gimana?”
Tika tertunduk, Amprung mengelus bahu istrinya.
“Kau jangan khawatir selama pocong itu dikurung, kita pasti baik-baik saja. Dan yang terpenting....”
Amprung mendekatkan mulutnya ke telinga Tika, “Dagangan kita laris,” bisiknya.
***
Suatu hari, ada kegaduhan di wartegnya Amprung. Seorang anak laki-laki indigo mengamuk saat ayahnya hendak mampir di wartegnya Amprung. Ia tidak mau masuk ke dalam warteg itu lantaran melihat banyak sekali makhluk gaib di dalamnya.
“Ayah mau makan dulu sebentar, Nak.”
“Nggak mau Ayah. Jangan makan di situ,” ia menunjuk ke dalam warteg Amprung. Dari perawakannya, dapat dilihat kalau anak itu baru berumur enam tahun.
“Nggak apa-apa sebentar doang, kok. Abis ini kita pulang,” ayahnya menarik lengan anak itu.
“Nggak Yah. Lihat itu banyak setannya. Itu di piring juga banyak cacing!”
Akhirnya ayahnya menuruti kemauan anak itu, ia tidak jadi makan di wartegnya Amprung. Para pelanggan pun kehilangan nafsu makannya. Buru-buru membayar dan pergi tanpa menghabiskan makanan.

Pocong Tetangga: Botol Apa Ini? (Part 6)


Tidak seperti biasanya pasar Kliwon sepi tengah malam begini. Tidak ada kegaduhan orang yang sedang berjudi. Kios-kios sayuran yang biasanya buka 24 jam juga tutup. Mungkin mereka mau berlibur untuk beberapa hari.
Di tengah pasar yang sepi, seorang gelandangan sibuk mengorek tumpukan sampah. Mamat, si pemulung yang umurnya masih muda, itu dari pagi belum makan. Wajahnya meringis menahan perutnya yang semakin perih.
Karung butut berisi sampah plastik yang dibawanya diletakkan begitu saja. Karung itu hanya terisi sedikit, tak ada seperempatnya. Sementara isinya kalau dijual belum cukup untuk membeli sebungkus nasi.
Tengah malam seperti itu ia terbangun karena lapar. Terpaksa ia mencari sisa makanan di tong-tong sampah sepanjang pasar Kliwon. Sialnya, Mamat tidak menemukan apa pun yang bisa dimakan. Ia hanya menemukan sampah-sampah yang berbau busuk, sisa sirip ikan, potongan tulang ayam, dan sayuran busuk.
Wajah Mamat sangat lesu. Ia mengambil kembali karung butut lalu menyeretnya. Perlahan ia melangkah menyusuri pasar Kliwon dan berharap ada sisa makanan yang bisa ia temukan.
Wajahnya berbinar saat dari kejauhan melihat sesuatu yang sepertinya bisa dimakan. Itu sebuah pepaya yang sebagian matang, namun sebagian lagi busuk. Mungkin si penjual sengaja tidak memasukkan buah itu ke keranjang dan meninggalkannya.
Segera Mamat mempercepat langkahnya. Ia memotong buah itu dengan kedua jempolnya. Ia terlihat sangat lahap saat memakan buah pepaya. Belum juga selesai, tiba-tiba ia mendengar sesuatu yang aneh dari arah barat. Sambil memakan pepaya, Mamat melangkah mencari sumber suara tersebut. Itu seperti suara kaca yang beradu.
Langkah Mamat terhenti di depan kios. Di bagian depan kios itu bertuliskan 'Warteg Berkah Sugih'. Itu warung milik Amprung. Kios itu dikunci rapat, tidak mungkin bisa dibobol maling.
Mamat pergi ke belakang kios. Ia melihat ada sebuah kaca ventilasi udara yang cukup tinggi. Ia menoleh ke sekeliling dan menemukan tumpukan bekas keranjang buah. Disusunnya keranjang-keranjang itu sampai tinggi. Ia lalu naik ke atas keranjang. Dengan sekuat tenaga Mamat memecahkan kaca pentilasi tersebut.
Serpihan beling sempat mengenai pipinya. Ia mengaduh kesakitan lalu membersihkan sisa kaca pada pentilasi udara. Setelah bersih, ia lalu masuk ke dalam warteg tersebut. Mamat melompat, ia berada di dapur. Suara itu masih terdengar jelas.
Pelan-pelan ia mengikuti sumber suara. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah botol yang aneh. Botol itu berisi gumpalan asap di dalamnya dan juga mengeluarkan suara ketukan. Mamat mengocok botol itu. Tidak ada yang berubah. Suara masih saja terdengar dari dalam botol.
“Botol apa ini?” gumam Mamat.
Ia malah mencabut tutup botol itu. Seketika asap pekat keluar dari dalam botol memenuhi ruangan dapur. Mamat terbatuk-batuk. Ia mengibas-kibaskan kedua tangannya untuk menyingkirkan asap. Dan... tampaklah sesosok pocong di hadapannya. Pocong itu merintih minta uangnya dikembalikan. Mamat terkejut lalu jatuh pingsan.
***
Keesokan harinya, pasar Kliwon geger karena kios Amprung dibobol pencuri. Mamat dibawa ke kantor polisi. Ia ditahan. Sementara Amprung dan Tika mulai panik karena botol itu dibuka oleh si Mamat. Hari itu, Tika menutup kiosnya untuk sementara. Amprung akan mendatangi Mbah Goto untuk berkonsultasi.
Sayangnya, saat Amprung mendatangi rumah Mbah Goto. dukun itu sudah meninggal dunia. Rumahnya ramai didatangi warga yang hendak melayat. Amprung kebingungan. Ia buru-buru pulang.
“Bagaimana ini, Pak?” tanya Tika sambil menyuguhkan kopi pahit ke hadapan suaminya.
“Gini, kita buka saja wartegnya. Lagipula pelanggannya kan udah banyak. Mungkin tanpa botol itu pun warteg kita akan tetap ramai,” katanya mencoba menenangkan.
“Kita kembalikan saja uang yang pernah kamu curi, Pak.”
“Jangan! Nanti aku malu. Biarkan saja. Lagipula pocong itu tidak akan menyakiti kita,” ujar Amprung.
Hari berikutnya, setelah mengantarkan anaknya ke sekolah, Tika membuka kembali warteg itu. Pengunjung tetap ramai. Semua terlihat baik-baik saja. Namun, saat para pengunjung itu sedang makan dengan lahap, tiba-tiba perut mereka terasa mual lalu muntah darah. Semua hidangan berubah menjadi tumpukan cacing yang menjijikkan.
Para pelanggan terkapar kesakitan sambil memegangi perut. Mereka berteriak seperti orang yang kena santet. Warteg Tika dipenuhi muntahan darah. Satu pasar heboh, orang-orang berkerumun ingin melihat kejadian aneh itu.
“Bangsat! Kau pakai pesugihan, ya?” teriak salah seorang pengunjung pasar.

Pocong Tetangga: Bangkit Kembali (Part 7)


“Iya kalian pasti menggunakan pesugihan!” sahut pengunjung pasar lainnya.
Para pengunjung warteg yang menjerit kesakitan akhirnya dibawa satu persatu ke rumah sakit terdekat. Lain hal yang terjadi dengan Tika dan Amprung, mereka dilempari sampah dan batu, kiosnya diacak-acak. Uangnya dirampas lalu dibakar di depan mereka berdua.
“Ampuni kami. Sungguh, kami tidak menggunakan pesugihan!” Amprung memeluk istrinya, melindunginya dari amukan warga.
“Halah! Bohong kau!” sebuah kayu menghantam kepala Amprung. Ia terkapar dengan darah bercucuran.
“Pak!” Tika menjerit sambil merangkul suaminya.
Sebelum warga sempat membunuh mereka berdua, polisi datang berhamburan ke pasar Kliwon. Salah satu pimpinan polisi menembakkan senjata api ke udara untuk membubarkan kerumunan.
Untung saja, Amprung dan Tika masih bisa diselamatkan. Dan yang terjadi selanjutnya sangat menyedihkan, warteg mereka ditutup paksa lalu dilebeli 'Parteg Pesugihan' itu sangat memalukan.
Akibat hantaman benda tumpul, Amprung tidak sadarkan diri selama dua hari. Ia dirawat di rumah sakit yang sama dengan para pelanggan wartegnya. Suatu malam di rumah sakit, saat Tika dan anaknya tertidur pulas di samping ranjang Amprung, tirai jendela bergerak tertiup angin. Muncul bayangan pocong di luar sana yang siap menagih uangnya kembali.
Sementara itu, Amprung terbaring dengan tenang, tangannya diinfus, mulutnya dipasangi alat bantu pernafasan, dadanya turun naik pertanda kalau ia masih hidup. Amprung bermimpi kalau dirinya sedang ada di sebuah tempat yang sunyi.
Ia duduk seorang diri di atas bangku. Dari arah kanannya terdengar suara langkah sepatu mendekat, itu Mbah Goto. Amprung menyeringai bahagia saat melihat lelaki tua itu.
“Mbah tolong aku. Bagaimana cara menghentikan pocong itu?”
“Kalau kau tidak mau mengembalikan uangnya, kau datangi saja kuburannya.”
“Lalu?” tanya Amprung.
“Kau curi tali kain kafan di bagian pergelangan kaki.”
Amprung terdiam sejenak, “Ada lagi yang harus saya lakukan, Mbah?”
“Kau telan tali itu.”
Amprung mengangguk, itu terdengar sangat mudah. Ia pasti bisa melakukannya. Baginya, mengembalikan uang hasil curian adalah aib. Ia tidak sanggup menanggung malu, apalagi yang ia curi adalah tetangganya sendiri. Lebih baik Amprung melakukan apa yang disarankan Mbah Goto saja.
Ia tergeragap bangun, nafasnya terengah-engah lalu menoleh ke arah jendela. Bayangan pocong masih berdiri di sana. Buru-buru Amprung mebangunkan istri dan anaknya. Mereka berteriak panik membuat dokter dan perawat berdatangan.
“Pocong, Dok! Ada pocong!” Amprung menunjuk ke arah jendala, tapi tidak ada apa-apa di sana.
“Tenang, Pak. Bapak pasti berhalusinasi,” kata dokter sambil membaringkan kembali tubuh Amprung.
Besoknya, Amprung minta pulang. Ia merasa sudah tidak perlu lagi dirawat. Sebenarnya dokter menyarankannya agar tetap melakukan rawat inap untuk dua hari lagi, tapi Amprung bersikeras ingin pulang. Ia tidak sabar ingin segera melakukan apa yang disarankan Mbah Goto di dalam mimpinya.
***
Semua sudah Amprung persiapkan. Dia akan melakukan aksinya seorang diri. Sebenarnya Tika melarang suaminya untuk melakukan hal aneh itu dan menyarankannya agar mengembalikan uang jenazah itu, tapi Amprung tetap tidak mau.
Maka  malam itu, saat orang-orang sedang tidur pulas, Amprung berangkat menuju kuburan Pak Rusdi dengan mengendarai motor barunya. Siang tadi ia sudah pergi ke sana, untuk memastikan lokasi kuburan Pak Rusdi.
Tidak sampai dua puluh menit, ia tiba di pemakaman. Amprung menoleh ke sekeliling, memastikan kalau tidak ada siapa pun yang melihat aksinya. Amprung tersenyum, ia sudah menemukan kuburan Pak Rusdi. Sebuah cangkul dikeluarkan dari dalam karung.
“Pocong bangsat,” gumam Amprung.
Saat cangkul itu ditancapkan di atas tanah kuburan, tiba-tiba permukaan tanah itu bergetar. Amprung panik, tapi ia tetap melakukan aksinya. Tanah itu berhasil ia gali. Bau musuk menguar menusuk hidung. Mayat itu sudah penuh dengan belatung, wajahnya membusuk bahkan terlihat tulang tengkoraknya.
Tangan Amprung bergetar saat mengambil tali kain kafan di bagian pergelangan kaki. Ia meraih sebotol air dari permukaan makam yang sengaja ia bawa. Ia menggulung tali tersebut lalu menelannya sambil meneguk air.

Pocong Tetangga: Ketukan Pintu (Part 8)


Setelah berhasil menelan tali kain kafan tersebut, ia menutup kembali liang lahat itu dan bergegas pulang. Dua hari berlalu, tidak ada pocong yang mengganggu keluarga Amprung. Ia kira saran Mbah Goto itu berhasil mengusir pocong.
Sayangnya, ketenangan keluarga Amprung hanya bertahan dua hari. Di malam berikutnya pocong itu kembali muncul. Ia mengetuk-ngetuk pintu rumah membuat Amprung dan keluarga susah untuk tidur.
Entah apa yang terjadi, Amprung tidak mengerti. Padahal dia sudah melakukan semua yang dikatakan Mbah Goto. Pelan-pelan Amprung dan istrinya keluar dari dalam kamar, mereka mengintip dari balik tirai jendela.
Benar saja, pocong itu berdiri di depan rumah sambil menggedor-gedorkan pintu dengan kepalanya. Di bagian pergelangan kaki, kain kafannya terbuka karena talinya sudah dicuri oleh Amprung. Kini pocong itu hanya bergumam dengan suara tidak jelas.
“Pak, kamu benar-benar udah melakukan apa yang disarankan Mbah Goto?” tanya Tika.
“Udah, Tik. Aku udah menelan tali kain kafannya.”
Tika berpikir sejenak, “Pak...,” ia lalu menyentuh pundak suaminya.
“Tadi siang kamu buang air besar, ya?” lanjutnya.
Amprung mengangguk.
“Aduh...!” ia memukul jidatnya.
“Iya, jangan-jangan tali itu ikut keluar, Pak,” ujar Tika.
“Kayaknya memang seperti itu. Tapi, aku harus bagaimana? Tali itu pasti ikut keluar kalau aku buang air besar,” Amprung menggaruk kepalanya sendiri.
“Terus sekarang gimana?” tanya Tika.
Amprung menggelengkan kepala, “Tutup pintu kamar, nanti Amila dan Zahra bangun,” suruh Amprung.
Tika mengangguk lalu menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Suara ketukan itu perlahan hilang. Amprung dan Tika bisa tidur kembali dengan tenang malam itu. Sampai pagi tiba, pocong tidak lagi mengganggu mereka.
Keesokan harinnya Amprung tidak ada di rumah. Tika mengira kalau suaminya itu sudah berangkat ke pasar Kliwon atau ke tempat lain untuk mencari penangkal pocong. Tapi, sampai malam tiba Amprung tidak kunjung  pulang.
Tika panik, dia yakin kalau pocong itulah yang menjadi penyebab suaminya hilang. Akhir-akhir ini juga pocong itu tidak lagi muncul.  Dengan sisa uang yang ada, akhirnya Tika memutuskan untuk mengembalikan uang yang pernah dicuri oleh suaminya.
Sore itu, Tika mengetuk pintu rumah Jubaidah. Wanita itu mempersilakan Tika untuk masuk. Ruangan rumah tampak hening, terkesan hanya Jubaidah yang tinggal sendirian di rumah itu.
“Jubaidah, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”
“Tuben sekali. Ada apa ya Mbak Tika?” Jubaidah tersenyum, ia tidak bisa menebak apa yang akan dibicarakan tetangganya itu.
“Tapi, aku mohon kamu jangan marah,” Tika menyentuh lengan Jubaidah.
"Ada apa, ya?" Jubaidah mengerutkan kening.
Ragu-ragu, Tika mengeluarkan amplop cokelat berisi uang, “Dulu suamiku yang mencuri uang sedekah bapakmu. Sekarang aku mau kembalikan uang itu.”
Jubaidah terkejut sekaligus tidak percaya dengan apa yang dikatakan Tika.
“Jadi suamimu yang mencuri uang sedekahnya?” ia menyingkirkan lengan Tika.
Tika mengangguk.
“Tega sekali keluarga kalian! Makan uang haram! Sementara aku malu karena nggak bisa ngasih sedekah buat bapak! Asal Mbak tahu itu uang tabunganku, Mbak!”
“Aku mohon maafkan keluarga kami, Jubaidah,” Tika tertunduk.
“Ini bukan masalah uangnya. Ini soal harga diri dan tanggung jawab aku sebagai anak. Aku nggak bisa memaafkan kalian.”
Jubaidah malah mengusir Tika, ia tidak sudi menerima uang dari Tika. Bahkan, Jubaidah mengancam akan membawa kasus ini ke pengadilan. Tika pun putus asa, tidak ada cara lagi untuk mengembalikan suaminya. Setiap kali anak-anaknya menanyakan Amprung, Tika selalu bilang kalau bapak mereka sedang bekerja di luar kota.
***
Sore itu, hujan turun dengan deras. Tika sedang memasak telur dadar. Sudah seminggu Amprung hilang dan Tika belum melaporkannya ke polisi, lagi pula ini bukan urusan polisi. Tika merasa tidak ada gunanya melibatkan polisi karena ini adalah urusan gaib. Satu-satunya cara adalah mencari dukun sesakti Mbah Goto yang bisa menerawang keberadaan suaminya itu.
“Tika...,” tiba-tiba ada yang memanggilnya dari belakang, itu jelas sekali suara Amprung.
Tika menoleh ke belakang. Ia berjalan ke ruang tamu, tangannya masih memegang spatula.
“Tika tolong aku, Tik!” suara itu sekarang ada di dapur.
“Pak?!”
“Kamu di mana, Pak?” panggil Tika, ia panik mencari ke seluruh ruangan rumah.

Pocong Tetangga: Kembalikan Uangku (Part 9)


Suara itu hilang, Tika menangis. Ia sudah mendatangi beberapa dukun, tapi mereka semua menyarankan untuk mengembalikan uang yang Amprung curi. Tika bingung lantaran Jubaidah tidak mau menerima uang itu.
Saat Tika bangun dari duduknya, tiba-tiba saja seperti ada yang menendang dadanya. Ia terpental beberapa langkah ke belakang dan tidak sadarkan diri. Yang terjadi selanjutnya sangat aneh, ia membenturkan kepalanya sendiri ke dinding sampai berdarah.
“Ibu...?” Zahra muncul dari dalam kamar.
Ibunya tidak menjawab, ia terus membenturkan kepalanya ke dinding dengan keras.
“Ibu kenapa?”
Zahra mendekat perlahan lalu menyentuh punggung ibunya. Ia sangat terkejut saat melihat ibunya sendiri. Wajah Tika penuh dengan darah. Kedua bola matanya berubah menjadi putih semua. Ia menyeringai mengerikan pada Zahra.
Anak itu berteriak, tidak lama kemudian Amila muncul. Ia juga ketkutan saat melihat wajah ibunya yang aneh dan mengerikan itu. Tika yang sedang dikendalikan makhluk gaib mendekati kedua anaknya perlahan.
Sebuah pisau diraihnya, ia hendak membunuh kedua anaknya. Pocong yang merasukinya itu benar-benar sudah marah, kali ini dia akan menghabisi semua keluarga Amprung. Untungnya Amila berhasil lari keluar rumah, sementara Zahra tidak bisa lari. Ia sangat ketakutan dan berteriak sekencang mungkin.
Tika mengayunkan pisau di tangannya dan hendak menusukkannya ke kepala Zahra, tapi... dari pintu rumah muncul Pak Darsoni, seorang ustaz kampung. Ia lari dan menabrakkan dirinya sendiri pada tubuh Tika. Pisau di tangan wanita itu menebas sembarang arah hingga melukai lengan Pak Darsoni.
Dengan susah payah, akhirnya Pak Darsoni berhasil melepaskan pisau itu dari genggaman Tika. Kedua telapak tangan Pak Darsoni berlumur darah karena menyentuh wajah Tika, ia membisikkan ayat-ayat Quran ke telinga Tika. Wanita itu mengamuk tidak karuan, berteriak, memukul-mukul punggung Pak Darsoni.
Warga mendengar kegaduhan, mereka berkerumun di mulut pintu rumah Tika, terkecuali Jubaidah; ia tidak peduli apa pun yang terjadi pada keluarga Amprung. Amila dan Zahra sudah diamankan warga, mereka menangis sambil memanggil-manggil ibunya.
Tubuh Tika perlahan lemas, matanya terpejam. Dengan dibantu warga, Tika dibaringkan di atas tempat tidurnya. Tidak ada yang tahu persis kenapa hal ini bisa terjadi, kalau saja Pak Darsoni tidak bertemu dengan Amila yang sedang minta tolong, mungkin saja nyawa Zahra sudah melayang di tangan ibunya sendiri.
Setelah siuman, Tika menceritakan semuanya. Pak Darsoni menyarankan Tika agar tinggal bersama keluarga Pak Darsoni untuk sementara waktu karena takut terjadi kembali hal-hal yang tidak diinginkan. Tika mengiyakannya dan berharap kalau Pak Darsoni bisa membantu permasalahannya.
Dua hari tinggal bersama keluarga Pak Darsoni, pocong itu tidak lagi muncul, mungkin karena rumah Pak Darsoni sering dilantunkan ayat suci. Keluarga Pak Darsoni pun sangat ramah, mereka memperlakukan Tika dan anak-anaknya layaknya keluarga sendiri.
Sudah berkali-kali Pak Darsoni mendatangi Jubaidah, membujuknya agar mau menerima uang yang dicuri Amprung. Tapi, tetap saja wanita itu keras kepala. Dia bersumpah sampai kapan pun tidak akan pernah memaafkan keluarga Amprung.
“Susah, Jubaidah tetap tidak mau menerima uangnya,” Pak Darsoni duduk di atas sofa, ia membuka peci lalu meletakkannya di atas sofa.
“Lalu apa yang harus saya lakukan?”
Pak Darsoni terdiam, ia sedang berpikir, “Begini saja, kau bagikan uang itu ke warga kampung tempat Pak Rusdi dimakamkan. Kau niatkan sedekah untuk jenazah Pak Rusdi.”
Tika mengangguk, besoknya ia langsung menuju kampung tersebut. Satu persatu Tika mendatangi rumah penduduk, ia meminta maaf atas apa yang telah suaminya lakukan. Ada yang menasehati Tika, ada juga menyumpahi lalu marah-marah, tapi Tika tetap membagikan amplop berisi uang sedekah. Setelah selesai, ia mendatangi kuburan Pak Rusdi untuk meminta maaf sambil menangis.
“Tolong kembalikan suamiku,” desis Tika.
Gundukan kuburan itu bergetar seperti ada yang mengguncangkannya. Tika mundur beberapa langkah, ia ketakutan.

Pocong Tetangga: Maafkan Kami (Part 10)


Dari sela-sela tanah kuburan, perlahan muncul asap kental diiringi dengan suara rintihan.
“Kembalikan tali kain kafanku....”
Tika hampir lupa kalau tali kain kafan itu juga sempat dicuri oleh Amprung.
“Ba..., baik. Aku akan cari tali itu,” kata Tika.
Segera Tika lari, yang ada benaknya hanya satu; pasti tali itu masuk ke dalam lubang septic tank. Mau tidak mau, septic tank rumahnya harus dibongkar.
Sesampainya di kampung, dia langsung mendatangi tukang bangunan dan memintanya untuk membongkar septic tank rumahnya. Tika tahu, tidak mudah menemukan tali itu, tapi mau bagaimana pun ia harus tetap mencobanya.
“Maaf, Mbak. Kalau harus masuk ke dalam septic tank, saya tidak sanggup.”
Tika diam sejenak, “Tak apa, biar aku saja yang masuk, aku hanya minta tolong bongkar septic tank-nya.”
“Memangnya apa yang Mbak cari?” tanya Ruslan.
“Pokoknya benda penting. Bisa ke rumah sekarang?” tanya Tika.
“Bisa Mbak. Sebentar ya.” Ruslan masuk ke dalam rumahnya lalu muncul kembali dengan membawa palu pemecah batu dan juga linggis.
Dengan susah payah, Ruslan membongkar septic tank rumahnya Tika. Mereka berdua mengenakan masker dan kacamata. Setelah berhasil dibongkar, Tika pelan-pelan masuk ke dalam septic tank, tubuhnya tenggelam sedada. Bau menyengat membuatnya merasa pusing.
Tangannya meraba segala arah, mencari tali.
“Ketemu, Mbak?” tanya Ruslan dari atas.
Tika menggelengkan kepala. Namun tidak lama kemudian, lengan Tika meraih sebuah tali. Ia tersenyum, Tika yakin kalau itu adalah tali kain kafan. Anehnya, tali itu seperti tersangkut pada sesuatu sehingga susah dicabut.
“Susah dicabut nih,” kata Tika.
Ia menarik tali itu sambil berteriak, mengeluarkan seluruh tenaganya. Tali lepas, Tika terjungkal untung saja ia masih bisa menahan keseimbangan. Dugaan Tika benar kalau tali itu adalah tali kain kafan. Segera ia naik ke permukaan lalu mencuci tali tersebut.
“Itu tali apa, Mbak?” tanya Ruslan.
Tika tidak menjawab, ia malah beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, ia kembali menghampiri Ruslan dan memberikan sejumlah uang.
“Ini uang upahmu,”
“Wah besar sekali, Mbak.”
“Iya itu upah sekaligus untuk menutup kembali septic tank-nya.”
“Dan ini uang untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan untuk menutup septic tank,” lanjut Tika.
“Baik, Mbak,” Ruslan beranjak pergi ke toko material.
***
Malam hari, Tika kembali mendatangi kuburan Pak Rusdi. Ia membawa senter sebagai penerang. Burung hantu berkukuk dari balik pepohonan, membuat suasana menjadi semakin menakutkan. Sesampainya di kuburan, Tika mengeluarkan tali kain kafan dari dalam plastik warna hitam.
“Ini kukembalikan talinya,” ujar Tika, wajahnya jelas ketakutan.
Gundukan kuburan itu tidak bergerak sama sekali.
“Pak Rusdi, tolong kembalikan suamiku,” kali ini Tika menangis, sambil memohon.
Dari dalam tanah tiba-tiba muncul sebuah tangan, Tika terkejut. Ia buru-buru menyodorkan tali itu, tangan itu langsung meraihnya lalu masuk kembali ke dalam tanah.
Perjuangan Tika tidak sia-sia. Dari kegelapan, muncul Amprung yang berjalan tertaih-tatih. Segera Tika berlari ke arah suaminya lalu memeluknya sambil menangis. Amprung terlihat sangat kelelahan, Tika pun memapahnya pulang.
Sebelum pergi meninggalkan kuburan, Amprung menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke kuburan Pak Rusdi.
“Maafkan kami...,” desis Amprung.

SELESAI

Comments

Popular posts from this blog

Cara Mengobati Sariawan

How to Setting GFX Tool in latest Mobile game 2020

Cara Daftar Paket Tri 60rb: 32GB 22GB 6GB Unlimited YouTube 2020